Minggu, 17 November 2013

ANALISIS PERBEDAAN EKONOMI PENDIDIKAN DENGAN PENDIDIKAN EKONOMI

Hancurnya peradaban bangsa dimulai dari lemahnya karakter seorang pemimpin
No
Ekonomi Pendidikan
Pendidikan Ekonomi
1.
Sebuah studi tentang pendidikan.
Sebuah program studi dari ekonomi.
2.
Lebih menekankan ekonomi daripada pendidikan.
Lebih menekankan pendidikan daripada ekonomi.
3.
Pendidikan dilihat dari segi ekonomi.
Ekonomi dilihat dari segi pendidikan.
4.
Mengukur manfaat pendidikan.
Mengukur manfaat ekonomi.
5.
Mengkaji masalah pendidikan.
Mengkaji masalah ekonomi.
6.
Hanya mempelajari ilmu ekonominya saja tanpa perlu mempelajari bidang pendidikannya.
Suatu disiplin ilmu yang tidak hanya mempelajari disiplin ekonomi saja, namun juga disiplin ilmu ekonominya.


Sebagai Tugas Mata Kuliah Ekonomi Pendidikan, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Universitas Negeri Malang

SOLIDARITAS DAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN


A.    Pengertian Solidaritas Sosial dan Contoh
Era otonomi daerah saat ini melaksanaan pembangunan desa yang      meliputi segi kehidupan, baik politik, ekonomi, dan sosial budaya akan berhasil apabila solidaritas sosial tetap terpelihara dan melibatkan partisipasi masyarakat secara bottom up (dari atas ke bawah). Yaitu bagaimana mendorong kekuatan masyarakat dari bawah menjadi kekuatan pembaharuan menuju keeadaan kondisi yang lebih baik dalam upaya mendorong keberhasilan pembangunan.
Konsep solidaritas sosial merupakan konsep sentral Emile Durkheim (1858-1917) dalam mengembangkan teori sosiologi. Durkheim (dalam Lawang, 1994:181) menyatakan bahwa solidaritas sosial merupakan suatu keadaan hubungan antara individu dan/atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama dan diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Solidaritas menekankan pada keadaan hubungan antar individu dan kelompok dan mendasari keterikatan bersama dalam kehidupan dengan didukung nilai-nilai moral dan kepercayaan yang hidup dalam masyarakat. Wujud nyata dari hubungan bersama akan melahirkan pengalaman emosional, sehingga memperkuat hubungan antar mereka.
Solidaritas sosial juga dapat diartikan sebagai wujud kepedulian antar sesama kelompok ataupun individu secara bersama yang menunjukkan pada suatu keadaan hubungan antara indvidu dan atau kelompok yang di dasarkan pada persamaan moral, kolektif yang sama, dan kepercayaan yang dianut serta di perkuat oleh pengalaman emosional (Johnsn, 1981). Solidaritas sosial dapat terjadi karena adanya berbagai macam kesamaan ras, suku dan adanya perasaan yang sama sehingga mereka mempunyai keinginan kuat dalam memperbaiki keadaanya dan daerah ataupun lingkungan sekitarnya agar mereka bisa sedikit memperbaiki keadaan di sekitarnya dengan cara saling membantu satu sama lain terutama dalam hal pembangunan. Solidaritas sosial juga dipengaruhi adanya interaksi sosial yang berlangsung karena ikatan cultural, yang pada dasarnya disebabakan munculnya sentiment komunitas (community sentiment).
Menurut Redfield sentiment komunitas mempunyai unsur-unsur sebagai berikut :
1.      Seperasaan, yaitu karena seseorang berusaha mengidentifikasi dirinya den­gan sebanyak mungkin orang dalam kelompok tersebut sehingga kese­muannyaa dapat menyebutkan dirinya sebagai kelompok kami (warga).
2.      Sepenanggungan, yaitu setiap individu sadar akan peranannya dalam ke­lom­pok yanag dijalankan.
3.      Saling butuh, yaitu individu yang tergantung dalam masyarakat setem­pat me­rasakan dirinya tergantung pada komunitasnya meliputi fisik maupun psikologinya.
Dari hal-hal di atas dapat diambil kesimpulan bahwa solidaritas sosial terjadi karena beberapa faktor di atas sehingga dalam bersolidaritas benar- benar memliki rasa untuk saling tolong-menolong satu sama lain dengan didasarkan atas 3 persamaan di atas. Sedangkan faktor lain dari terbentuknya solidaritas sosial adalah adanya interaksi yang menjadi faktor utama dalam bersolidaritas sosial terutama dalam hal pembangunan., karena jika di dalam solidaritas sosial tidak ada atau mengalami kegagalan interaksi akan menghambat terjadinya solidaritas sosial.
Salah satu sumber solidaritas adalah gotong royong , istilah gotong royong mengacu pada kegiatan saling menolong atau saling membantu dalam masyarakat. Tradisi kerjasama tersebut tercermin dalam berbagai bidang kegiatan masyarakat diantaranya adalah : kegiatan dalam membangun rumah, memperbaiki sarana umum, mengadakan hajatan, dalam bencana alam kematian dll. (Sajogya, 2005 : 28)
Solidaritas sosial sangat diperlukan di dalam masyarakat, terutama masyarakat kota. Karena pada umumnya masyarakat kota mempunyai tigkat kesibukan yang tinggi serta mempunyai kesenjangan antara warga satu dan warga lain, sehingga  jarang dari mereka mengetahui keadaan para tetangga mereka bahkan apabila ada tetangganya yang sakit jarang dari mereka yang mengetahui. Kebanyakan dari masyarakat kota khususnya warga perumahan tidak pernah tahu siapa-siapa para tetangga yang ada di sekitar rumahnya yang mereka tahu hanya mencari uang.
Berbeda dengan masyarakat desa. Mereka selalu mencoba memupuk rasa persudaraan antara warga dengan mengadakan berbagai macam kegiatan- kegiatan yang dapat mempertemukan antara warga satu dengan warga lain, masyarakat desa juga mempunyai tingkat solidaritas antara warga yang tinggi karena kebanyakan dari mereka selalu mencoba meluangkan waktu agar dapat bertemu dengan para tetangganya walaupun hal tersebut hanya saling menyapa.
Berikut ini adalah berbagai macam bentuk solidaritas sosial yang kebanyakan dilakukan oleh masyarakat desa, diantaraanya adalah :
1.      Kegiatan Soyo, yang biasanya di terapkan saat ada salah satu warganya yang sedang membangun rumahnya. Biasanya para warga berdatangan tanpa diundang.
2.      Kegiatan Tahlilan kematian, hal ini dilakukan apabila ada salah satu ang­gota keluarga warga yang meninggal dunia, para warga berdatan­gan untuk menyumbangkan do’a.
3.      Kegiatan  bersih desa yang dilakakan sebagai ucapan syukur para warga ka­rena telah mendapatkan hasil panen yang memuaskan, dan berharap agar hasil panen tersebut melimpah ruah.
4.      Kegiatan  Baksos (Bakti Sosial) dilakukan untuk membantu para warga yang tidak mampu dan benar-benar membutuhkan.
5.      Kegiatan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu), untuk para warga masyara­kat yang mempunyai balita agar anak- anak mereka menda­patkan asupan gizi yang seimbang.
6.      Balai pengobatan gratis dikhususkan untuk para warga yang belum mampu berobat di tempat yang belum bisa mereka jangkau. Agar ke­seha­tan para masyarakat lebih terjamin.
Sedangkan bentuk solidaritas yang diterapkan oleh masyarakat kota, cenderung pada bentuk-bentuk solidaritas dalam komunitas hobi atau pekerjaan. Contohnya saja komunitas pencinta sepeda gunung yang mengadakan acara bersepeda bareng dihari Minggu, atau juga komunitas istri pengacara yang mengadakan acara arisan disetiap malam Minggu hingga larut malam.
Dapat disimpulkan bahwa solidaritas merupakan alat yang seharusnya dijadikan anggota masyarakat sebagai alat untuk memupuk rasa persaudaraan antar anggota masyarakat. Dengan adanya solidaritas masyarakat menjadi lebih bisa mengerti keadaan sesama warga, selain itu mereka juga bisa saling tolong menolong antara warga masyarakat. Di dalam bersolidaritas sosial juga sangat diperlukan sekali interaksi sosial karena pada umumnya saat melakukan solidaritas sosial kita sudah melakukan interaksi sosial pula, dan rasanya sangat tidak mungkin apabila dalam bersolidaritas tidak ada sama sekali interaksi di dalamnya yang terjadi antar sesama anggota masyarakat, sehingga apabila solidaritas sosial telah terjadi maka secara tidak langsung telah terjadi interaksi sosial di dalamnya.
B.     Solidaritas Sosial dalam Pembangunan
Solidaritas sosial sangat berpengaruh penting terhadap pembangunan karena dalam solidaritas terdapat hubungan saling membutuhkan dengan rasa gotong royong sehingga adanya rasa saling membantu antara satu dengan lainnya. Pembangunan yang terjadi baik di desa maupun di kota tak dapat berjalan baik tanpa adanya rasa solidaritas sosial di kalangan masyarakat sendiri. Tetapi rata-rata masyarakat kota masih kurang memiliki rasa solidaritas sosial dikarenakan karena cara hidup masyarakat perkotaan yang individual dan acuh terhadap lingkungan.
Rasa solidaritas sosial kini sudah mulai pudar tergerus oleh pergantian zaman globalisasi, terutama untuk daerah perkotaan, tetapi tidak hanya perkotaan saja desa-desa yang terkenal dengan sikap gotong royong dan tepo slironya pun juga sudah mulai tergeser dari daerah masing-masing. Ada desa yang masih menjalankan gootng royong dalam pembuatan rumah, tempat ibadah, maupun tempat-tempat umum lainnya, tapi jika ditelisik lebih dalam gotong royong yang masyarakat lakukan selama ini adalah karena dalam hal tersebut seseorang akan mendapatkan upahnya. Tetapi juga masih ada juga masyarakat yang gotong royong tanpa pamrih seperti di Desa Mentaraman Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang.
Masyarakat Mentaraman selalu bergotong royong dalam setiap pembangunan yang ada di desa Mentaraman, Jika Emile Durkheim menjelaskan solidaritas sosial  dapat terjadi karena adanya persamaan  moral dan kepercayaan yang dianut bersama. Hal ini juga yang mendasari sikap gotong royong masyarakat di Desa Mentaraman. Di desa ini terdapat akulturasi  antara  budaya Jawa dan agama Islam. Masyarakat masih percaya kepada tradisi nenek moyang secara turun temurun dan juga yang bersifat magis/berbau klenik. Walaupun ada sebagian kaum muda yang sudah mulai tak menghiraukan tetapi regenerasi kepercayan itu tetap terjadi di masyarakat, sehingga rasa persamaan itu masih ada dan itulah yang memupuk solidaritas yang terjadi di masyarakat Mentaraman,
Contoh, pada pembuatan rumah salah seorang warga. Tetangga dan warga dusun itu akan membantu dan tidak mendapatkan upah, hanya mendapatkan jatah makan dan minum selayaknya tukang bangunan pada umumnya. Gotong royong ini pun juga tergantung pada warga yang butuh bantuan tersebut. Biasanya warga akan melakukan soyo pada saat pembuatan pondasi rumah saja. Karena warga yang mayoritas petani mempunyai kesibukan harus pergi ke sawah Tetapi warga akan membantu sampai selesai jika orang(warga) tersebut memang benar-benar membutuhkan bantuan. Dan ketika ada tetangga kesusahanpun, warga masyarakat juga tidak segan-segan untuk membantu keluarga yanga sedang kesusahan. Solidaritas ini tidak hanya pada sebatas membantu membangun rumah saja, tetapi ketika ada perbaikan jalan, pembuatan gapura, ataupun kegiatan yang membutuhakan kerjasama lainnya maka masyarakat akan antusias membantu. Kegiatan gotong royong ini berlangsung bergantian siapa yang butuh di bantu. Dan setiap hari tertentu akan di adakan gerak’an. Yang artinya kerja bakti secara bersama-sama pada hari tertentu, yang biasanya dilaksanakan pada hari Minggu.
Mengingat pentingnya gotong royong dan solidaritas sosial antar masyarakat, pemerintah juga mencanangkan Program Nasional Pemberdayyan Masyarakat Mandiri atau yang lebih sering disebut PNPM Mandiri. Pemerintah mengucurkan dana trilyunan demi PNPM yang jika diteliti tujuan utamanya adalah mengikutsertakan masyarakat dalam pembangunan. Karena dinilai rasa gotong royong masyarakat sudah mulai memudar.
Berbeda dengan solidaritas yang ada di masyarakat desa, di desa gotong royong dan saling membantu antar warga masih sebuah tradisi yang dipegang teguh oleh masyarakat. Sehingga ketika ada tetangga yang mengalami kesusahan, tetangga-tetangga lain membantu. Seperti yang sudah disebutkan dalam contoh di Desa Tempursari dan juga Desa Donomulyo yang masyrakatnya masih berbudaya untuk saling membantu antar sesama. Hal ini juga perlu diterapkan kepada seluruh masyarakat di Indonesia. Jika pembangunan di Indonesia di landasi oleh rasa gotong royong, masyarakat akan menjadi partisipatif ketika ada pembangunan. Apabila dikaji secara antropologis dan sosiologis budaya gotong royong adalah budaya asli Indonesia yang sudah mulai tergusur oleh perkembangan zaman. Pada tahun 1996 Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah dan santun di mata Internasional. Tetapi citra tersebut juga luntur seiring dengan berkembangnya zaman.
Sikap santun, ramah, serta gotong royong jika tidak dilestarikan pasti akan menimbulkan sikap apatis di kalangan masyarakat Indonesia. Adanya sikap apatis menimbulkan masyarakat yang tidak partisipatif dan kurangmya rasa solidaritas terutama solidaritas sosial. Dalam tinjauan teori Durkehim menyebutkan solidaritas sosial dibagi menjadi 2 yaitu (1) Solidaritas Sosial Mekanik, dan (2) Solidaritas Sosial Organik.
1.      Solidaritas Mekanik
       Pandangan Durkheim mengenai masyarakat adalah sesuatu yang hidup, masyrakat berpikir dan bertingkah laku dihadapkan kepada gejala-gejala sosial atau fakta-fakta sosial yang seolah-olah berada di luar individu. Fakta sosial yang berada di luar individu memiliki kekuatan untuk memaksa. Pada awalnya, fakta sosial berasal dari pikiran atau tingkah laku individu, namun terdapat pula pikiran dan tingkah laku yang sama dari individu-individu yang lain, sehingga menjadi tingkah laku dan pikiran masyarakat, yang pada akhirnya menjadi fakta sosial. Fakta sosial yang merupakan gejala umum ini sifatnya kolektif, disebabkan oleh sesuatu yang dipaksakan pada tiap-tiap individu. Dalam masyarakat, manusia hidup bersama dan berinteraksi, sehingga timbul rasa kebersamaan diantara mereka.
      Rasa kebersamaan ini milik masyarakat yang secara sadar menimbulkan perasaan kolektif. Selanjutnya, perasaan kolektif yang merupakan akibat (resultant) dari kebersamaan, merupakan hasil aksi dan reaksi diantara kesadaran individual. Jika setiap kesadaran individual itu menggemakan perasaan kolektif, hal itu bersumber dari dorongan khusus yang berasal dari perasaan kolektif tersebut. Pada saat solidaritas mekanik memainkan peranannya, kepribadian tiap individu boleh dikatakan lenyap, karena ia bukanlah diri indvidu lagi, melainkan hanya sekedar mahluk kolektif. Jadi masing-masing individu diserap dalam kepribadian kolektif.


       Argumentasi Durkheim, diantaranya pada kesadaran kolektif yang berlainan dengan dari kesadaran individual terlihat pada tingkah laku kelompok. Ketika orang berkumpul untuk berdemonstrasi politik, huru-hara rasial atau untuk menonton sepakbola, gotong royong dan sebagainya, mereka melakukan hal-hal yang tidak mungkin mereka lakukan jika sendirian. Orang melakukan perusakan dan merampok toko-toko, menjungkirbalikan mobil, atau menunjukkan sikap kepahlawanan, kegiatan religius, semangat pengorbanan yang luar biasa, semuanya dianggap mustahil oleh yang bersangkutan. Masyarakat bukanlah sekedar wadah untuk terwujudnya integrasi sosial yang akan mendukung solidaritas sosial, melainkan juga pangkal dari kesadaran kolektif dan sasaran utama dari perbuatan moral.
       Moralitas merupakan suatu keinginan yang rasional. Jadi perbuatan moral bukanlah sekedar “kewajiban” yang tumbuh dari dalam diri melainkan juga “kebaikan” ketika diri telah dihadapkan dengan dunia sosial. Setiap individu yang melakukan pelanggaran nilai-nilai dan norma-norma kolektif timbul rasa bersalah dan ketegangan dalam batin. Nilai-nilai itu sudah merasuk dalam batin dan memaksa individu, sekalipun pemaksaannya tidak langsung dirasakan karena proses pembatinan itu untuk menyesuaikan diri. Moralitas mempunyai keterikatan yang erat dengan keteraturan perbuatan dan otoritas. Suatu tindakan bisa disebut moral, kalau tindakan itu tidak menyalahi kebiasaan yang diterima dan didukung oleh sistem kewenangan otoritas sosial yang berlaku, juga demi keterikatan pada kelompok.
Jadi, keseluruhan kepercayaan dan perasaan umum di kalangan anggota masyarakat membentuk sebuah sistem tertentu yang berciri khas, sistem itu dinamakan hati nurani kolektif atau hati nurani umum.
       Solidaritas mekanik tidak hanya terdiri dari ketentuan yang umum dan tidak menentu dari individu pada kelompok, kenyataannya dorongan kolektif terdapat dimana-mana, dan membawa hasil dimana-mana pula. Dengan sendirinya, setiap kali dorongan itu berlangsung, maka kehendak semua orang bergerak secara spontan dan seperasaan. Terdapat daya kekuatan sosial yang hakiki yang berdasarkan atas kesamaan-kesamaan sosial, tujuannya untuk memelihara kesatuan sosial. Hal inilah yang diungkapkan oleh hukum bersifat represif (menekan). Pelanggaran yang dilakukan individu menimbulkan reaksi terhadap kesadaran kolektif, terdapat suatu penolakkan karena tidak searah dengan tindakan kolektif. Tindakan ini dapat digambarkan, misalnya tindakan yang secara langsung mengungkapkan ketidaksamaan yang menyolok dengan orang yang melakukannya dengan tipe kolektif, atau tindakan-tindakan itu melanggar organ hati nurani umum.



2.      Solidaritas Organik
       Solidaritas organik berasal dari semakin terdiferensiasi dan kompleksitas dalam pembagian kerja yang menyertai perkembangan sosial. Durkheim merumuskan gejala pembagian kerja sebagai manifestasi dan konsekuensi perubahan dalam nilai-nilai sosial yang bersifat umum. Titik tolak perubahan tersebut berasal dari revolusi industri yang meluas dan sangat pesat dalam masyarakat. Menurutnya, perkembangan tersebut tidak menimbulkan adanya disintegrasi dalam masyarakat, melainkan dasar integrasi sosial sedang mengalami perubahan ke satu bentuk solidaritas yang baru, yaitu solidaritas organik. Bentuk ini benar-benar didasarkan pada saling ketergantungan di antara bagian-bagian yang terspesialisasi.
       Pertambahan jumlah penduduk yang menimbulkan adanya “kepadatan penduduk” merupakan kejadian alam, namun disertai pula dengan gejala sosial yang lain, yaitu “kepadatan moral” masyarakat (Veeger, 1985:149). Menurut Veeger, terjadinya pertambahan penduduk (perubahan demografik) akan disertai oleh pertambahan frekuensi komunikasi dan interaksi antara para anggota, maka makin besarlah jumlah orang yang menghadapi masalah yang sama. Selain itu, kompetisi untuk mempertahankan hidup semakin memperbesar persaingan diantara mereka dalam mendapatkan sumber-sumber yang semakin terbatas. Kondisi ini selanjutnya menimbulkan masyarakat yang pluralistis, dimana antar hubungan lebih banyak diatur berdasarkan pembagian kerja. Mereka mulai mengadakan kompromi dan pembagian yang memberikan ruang hidup kepada jumlah orang yang lebih besar. “Kepadatan moral” itu merupakan suatu konsep yang tidak bercorak alami, melainkan budaya, karena manusia sendiri yang membentuk masyarakat yang dikehendakinya.
       Kesadaran kolektif pada masyarakat mekanik paling kuat perkembangannya pada masyarakat sederhana, dimana semua anggota pada dasarnya memiliki kepercayaan bersama, pandangan, nilai, dan semuanya memiliki gaya hidup yang kira-kira sama. Pembagian kerja masih relatif rendah, tidak menghasilkan heterogenitas yang tinggi, karena belum pluralnya masyarakat. Lain halnya pada masyarakat organik, yang merupakan tipe masyarakat yang pluralistik, orang merasa lebih bebas. Penghargaan baru terhadap kebebasan, bakat, prestasi, dan karir individual menjadi dasar masyarakat pluralistik. Kesadaran kolektif perlahan-lahan mulai hilang. Pekerjaan orang menjadi lebih terspesialisasi dan tidak sama lagi, merasa dirinya semakin berbeda dalam kepercayaan, pendapat, dan juga gaya hidup. Pengalaman orang menjadi semakin beragam, demikian pula kepercayaan, sikap, dan kesadaran pada umumnya.
       Heterogenitas yang semakin beragam ini tidak menghancurkan solidaritas sosial. Sebaliknya, karena pembagian kerja semakin tinggi, individu dan kelompok dalam masyarakat merasa semakin tergantung kepada pihak lain yang berbeda pekerjaan dan spesialisasinya. Peningkatan terjadi secara bertahap, saling ketergantungan fungsional antar berbagai bagian masyarakat yang heterogen itu mengakibatkan terjadi suatu pergeseran dalam tata nilai masyarakat, sehingga menimbulkan kesadaran individu baru.
       Bukan pembagian kerja yang mendahului kebangkitan individu, melainkan sebaliknya perubahan dalam diri individu, di bawah pengaruh proses sosial mengakibatkan pembagian kerja semakin terdiferensiasi. Kesadaran baru yang mendasari masyarakat modern lebih berpangkal pada individu yang mulai mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok yang lebih terbatas dalam masyarakat dan mereka tetap mempunyai kesadaran kolektif yang terbatas pada kelompoknya saja, contohnya yang sesuai dengan pekerjaannnya saja. Corak kesadaran kolektif lebih bersifat abstrak dan universal. Mereka membentuk solidaritas dalam kelompok-kelompok kecil, dan solidaritas tersebut biasanya bersifat mekanik.
       Terjadinya perubahan sosial yang ditandai oleh meningkatnya pembagian kerja dan kompleksitas sosial, dapat juga dilihat sebagai perkembangan evolusi model linier (Lawang, 1986:188). Kecenderungan sejarah pada umumnya dalam masyarakat Barat adalah ke arah bertambahnya spesialisasi dan kompleksitas dalam pembagian kerja. Perkembangan ini mempunyai dua akibat penting. Pertama, dia merombak kesadaran kolektif yang memungkinkan berkembangnya individualitas.
       Kedua, dia meningkatkan solidaritas organik yang didasarkan pada saling ketergantungan fungsional. Durkheim melihat masyarakat industri kota yang modern ini sebagai perwujudan yang paling penuh dari solidaritas organik. Ikatan yang mempersatukan individu pada solidaritas mekanik adalah adanya kesadaran kolektif. Kepribadian individu diserap sebagai kepribadian kolektif sehingga individu saling menyerupai satu sama lain. Pada solidaritas organik, ditandai oleh heterogenitas dan individualitas yang semakin tinggi, bahwa individu berbeda satu sama lain.
Masing-masing pribadi mempunyai ruang gerak tersendiri untuk dirinya, dimana solidaritas organik mengakui adanya kepribadian masing-masing orang. Karena sudah terspesialisasi dan bersifat individualistis, maka kesadaran kolektif semakin kurang. Integrasi sosial akan terancam jika kepentingan-kepentingan individu atau kelompok merugikan masyarakat secara keseluruhan dan kemungkinan konflik dapat terjadi.
C.    Penerapan Solidaritas Sosial dalam Pembangunan
       Solidaritas antara masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan da­lam pembangunan. Jika membahas mengenai masyarakat, pada umumnya masyara­kat memiliki hubungan satu dengan yang lainnya dikarena fitrah dari manusia yang tidak bisa hidup sendiri atau disebut makhluk sosial. Namun dalam pembahasan ketiga ini, akan dibahas mengenai masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan yang terkhususkan perbedaan kedua­nya dalam soli­daritas pembangunan.
       Pembahasan mengenai masyarakat pedesaan dan masyarakat perko­taan lebih jauh, tentulah harus dipahami terlebih dahulu definisi dari ma­syarakat, desa, masyarakat pedesaan, kota, serta masyarakat perkotaan.
Menurut Selo Sumardjan, masyarakat adalah orang-orang yang hidup ber­sama dan menghasilkan kebudayaan. Sedangkan menurut Hasan Sadily, masyarakat adalah suatu keadaan badan atau kumpulan manusia yang hi­dup bersama. Berbeda dengan Karl Marx, beliau memaparkan bahwa ma­syarakat adalah su­atu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelom­pok yang terbagi secara ekonomi. Menurut Emile Durkhaim, masyarakat merupakan suatu kenyataan objektif pribadi-pribadi yang merupakan ang­gotanya. Dan dalam kamus besar bahasa Indonesia, menjelaskan bahwa masyarakat adalah sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka ang­gap sama.
       Definisi desa, dalam Undang-undang No.5 Tahun 1979 tentang peme­rin­tah daerah menerangkan bahwa “desa adalah suatu wilayah yang ditem­pati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat hukum, yang mempu­nyai organisasi pemerintah terendah, langsung dibawah camat dan berhak me­nyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan NKRI”.  Menurut Bintaro, desa merupakan perwujudan atau kesatuan geografi, so­sial, ekonomi, politik dan kultur yang terdapat disuatu daerah dalam hu­bungannya dan pen­garuhnya secara timbal-balik dengan daerah lain. Dan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, desa adalah kesatuan wilayah yang dihuni oleh sejumlah keluarga yang mempunyai sistem pemerintahan sen­diri (dikepalai oleh seoran kepala desa).
       Disimpulkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, masyarakat desa di­artikan sebagai masyarakat yang penduduknya mempunyai mata penca­harian utama dalam sektor bercocok tanam, perikanan, peternakan, atau gabungan dari kesemuanya itu, dan yang sistem budaya dan sistem sosial­nya mendu­kung mata pencaharian itu.
      Definisi kota, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan se­bagai daerah permukiman yang terdiri atas bangunan rumah yg merupakan kesatuan tempat tinggal dr berbagai lapisan masyarakat; dan definisi yang lain yakni, daerah pemusatan penduduk dng kepadatan tinggi serta fasilitas modern dan sebagian besar penduduknya bekerja di luar pertanian. Dan untuk arti dari ma­syarakat kota, bahwa msyarakat kota adalah masyarakat yang penduduknya mempunyai mata pencaharian dalam sektor perdagan­gan dan industri, atau yang bekerja dalam sektor administrasi pemerintah.
      Perbedaan masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan yakni, ma­sya­rakat desa cenderung tidak memikirkan rasa gengsi tetapi malah me­miliki ke­keluargaan yang tinggi. Contoh : kerja bakti pembangunan dan perawatan sa­rana umum, prosesi perawatan jenazah dari pengkafanan hingga masuk ke liang lahat. Bahkan acara tujuh harian, empat puluh hari, seratus hari, seta­hunnan, dan seribu harian. Dalam hal pemikiranpun, ma­syarakat desa tidak modern terhadap teknologi-teknologi yang berkem­bang pesat. Hal ini dis­ebabkan di desa tidak memiliki sarana dan prasarana yang memadai dikarena­kan financial yang terbatas untuk mencukupi ke­butuhan hidup, karena desa bisa dikatakan hanya mencakup dari sektor pertanian yang manjadi sumber utama untuk kelangsungan hidup mereka.
      Berbeda dengan masyarakat desa, masyarakat kota pada umumnya adalah masyarakat yang memiliki tingkat kegengsian yang sangat tinggi, yang sulit untuk menemukan rasa solidaritas yang tinggi, serta tingkat pe­mikiran, per­gaulan, pekerjaan yang mungkin berbeda dengan di desa. Hal ini bisa dis­ebabkan karena daerah yang lebih maju dan lebih modern dan mudah untuk mendapatkan suatu hal yang diharapkan dan diinginkan, ka­rena di kota semu­anya serba ada. Dan merekapun cenderung disibukkan dengan padatnya waktu mereka untuk bekerja.
     Tentang solidaritas masyarakat kota, mereka justru kurang memiliki sifat itu karena masyarakat kota hanya mementingkan diri sendiri, atau sikap hidup yang individualis. Pergaulan dikota lebih rentan bisa dikatakan sangat bebas dan sangat mudah ditemukan di daerah mana saja. Pekerjaan pun di kota bisa dikatakan sangat mudah, karena berbagai pekerjaan ada di kota tergantung kitanya saja bisa tidak mendapatkannya. Rasa kenyamanan, ketentraman, damai pun sulit untuk ditemukan karena disebabkan masyarakat di kota saling bersaing demi dirinya sendiri untuk mendapatkan pekerjaan, sehingga terjadilah tindakan-tindakan yang tidak sehat.
      Namun, walaupun antara masyarakat pedesaan dan masyarakat perko­taan memiliki perbedaan, tapi pasti dibalik perbedaan tersebut akan terda­pat hu­bungan dan hubungan tersebut sangatlah erat. Bahkan dalam kea­daan yang wajar diantara keduanya terdapat hubungan yang bersifat keter­gantungan, ka­rena diantara keduanya saling membutuhkan. Misalkan, ma­syarakat kota ter­gantung pada desa dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan-bahan pangan seperti beras, sayur mayur, daging, ikan. Dan masyarakat desa juga merupakan sumber tenaga kasar bagi jenis-jenis pe­kerjaan tertentu di kota mi­salnya saja buruh bangunan dalam proyek-proyek perumahan, proyek pem­bangunan atau perbaikan jalan raya atau jembatan.
 Sebaliknya, kota juga menghasilkan barang-barang yang akan di­per­lukan oleh orang desa seperti bahan-bahan pakaian, alat dan obat pem­basmi hama pertanian, minyak tanah, obat-obatan untuk memelihara kese­hatan. Di sinilah masyarakat perkotaan akan sangat bergantung pada ma­syarakat pede­saan dalam memenuhi kebutuhan pangan, dan sebaliknya, masyarakat pede­saan membutuhkan barang-barang yang diperlukan dalam bertani dan juga di­perlukan untuk keperluan mereka sendiri. Jadi antara masyarakat desa dan ma­syarakat kota ada hubungan timbal balik atau sim­biosis mutualisme (saling menguntungkan).
 Dalam Konflik dan Lunturnya Solidaritas Sosial Masyarakat Desa Transisi, solidaritas sosial adalah perasaan yang secara kelompok memiliki nilai-nilai yang sama atau kewajiban moral untuk memenuhi harapan-ha­rapan peran (role expectation) (Nasution, 2010). Sebab itu prinsip solidaritas sosial masyarakat meliputi: saling membantu, saling  peduli, bisa bekerja­sama, sal­ing membagi hasil panen, dan bekerjasama dalam mendukung pembangunan di desa baik secara keuangan maupun tenaga dan seba­gainya.
Tradisi solidaritas sosial yang telah ada pada masyarakat kita se­cara te­rus menerus harus tetap dilestarikan dari generasi ke generasi beri­kutnya akan tetapi karena dinamika budaya tidak ada yang statis, terjadilah beberapa peru­bahan secara eksternal dan internal. Unsur kekuatan yang merubah adalah modernisasi yang telah mempengaruhi tradisi solidarits sosial. Selain itu peru­bahan solidaritas sosial tersebut disebabkan oleh be­berapa faktor, antara lain: (a) meningkatnya tingkat pendidikan anggota keluarga sehingga dapat berpikir lebih luas dan lebih memahami arti dan kewajiban mereka sebagai manusia, (b) perubahan tingkat sosial dan corak gaya hidup  kadang-kadang mencipta­kan kerenggangan di antara sesama anggota keluarga, (c) Sikap egoistik, bila seseorang individu terlalu me­mentingkan diri sendiri dan keluarganya, lalu mengorbankan kepentingan masyarakat.



DAFTAR RUJUKAN
Nasution, Zulkarnain. 2009. Solidaritas Sosial dan Partisipasi Masyarakat Desa Transisi . Malang: UMM Press
Afandi, Aditya Lukman. 2011. Masyarakat Perkotaan dan Masyarakat Pedesaan. (http://blogs.mervpolis.com/roller/adit/entry/masyarakat_perkotaan_dan_masyarakat_pedesaan) di akses tanggal 25 Februari 2012
Daryono. 2009. Pembangunan Sumber Daya Masyarakati, (Online), (http://www.humasbatam.com/2009/06/16/pembangunan-sdm-masyarakat-hinterland-mulai-dari-pendidikan-infrastruktur-dan-pemberdayaan-ekonomi) di akses tanggal 1 April 2012
Nasution, Zulkarnain. 2010. Konflik dan Lunturnya Solidaritas Sosial Masyarakat Desa Transisi, (Online). (http://berkarya.um.ac.id/2010/02/05/konflik-dan-lunturnya-solidaritas-sosial-masyarakat-desa-transisi-oleh-zulkarnain-nasution) 25 Februari 2012
Nurhadi. 2010. Solidaritas (Masyarakat Perkotaan dan Pedesaan), (Online) (            http://nurhadiprabowo.blogspot.com/2010/11/solidaritasmasyarakat -perkotaan-dan.html) 25 Februari 2012

Rifan, Munir. 2010. Manajemen Pelayanan Publik: Pengembangan Sumber Daya Manusia, (Online). (http://ecoplano.blogspot.com/2010/04/manajemen-kinerja-pelayanan-publik.html) di akses tanggal 1 April 2012

Anonim. 2010. Solidaritas Sosial, (Online), (http://blogs.unpad.ac.id/rsdarwis/?p=10) di akses tanggal 11 April 2012



Sebagai Tugas Mata Kuliah Teori Perubahan Sosial dan Pembangunan , Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Universitas Negeri Malang
Hancurnya peradaban bangsa dimulai dari lemahnya karakter seorang pemimpin

oleh :

Ahmad Dany Muzaki                                                  110141411033
Fikri  Nazarullail                                                          110141411038
Khusnul Dyah Aftika Rahma                                      110141405805
Siti Khoirun Nisa’                                                        110141411010
Susilo Try Wijayanto                                                   110141405791
Umu Da’watul Choiro                                                 110141405809